Tampilkan postingan dengan label Yogyakarta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Yogyakarta. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 Mei 2008

DAN ALAMPUN HENDAKLAH DISYUKURI

* Ibenzani hastomi
Suasana ramai sudah terlihat di Desa Pendoworejo, Girimulyo, Kulon Progo pada Rabu (5/3). Tidak seperti biasanya, sejak pagi hari para ibu sibuk menyiapkan tenong-tenong (tempat nasi_red) untuk diisi nasi beserta lauk pauknya. Sementara itu di tepian Bendung Kayangan yang lokasinya tak begitu jauh dari desa, sejumlah pemain jathilan dari grup kesenian Sri Mekar Sidolaras sudah bersiap untuk unjuk kebolehannya dalam memainkan atraksi jaran kepang. Sedangkan pengunjung yang mulai memadati kawasan itu terlihat sudah tidak sabar menanti dimulainya acara. Ya, pada hari itu akan diadakan upacara adat Saparan Rebo Pungkasan di Bendung Kali Kayangan, acara tersebut terdiri atas 2 acara inti yaitu Ngguyang Jaran Kepang dan Kembul Sewu Dulur.
Menurut Sri Mulyono, pemangku adat Desa Pendoworejo sekaligus ketua panitia acara, upacara adat yang mulai tahun lalu diaktualisasikan kembali atas kerjasama Komunitas Kampung Budaya Menoreh dengan penduduk Desa Pendoworejo ini adalah sebagai bentuk ungkapan syukur atas rahmat yang telah diberikan oleh Allah SWT. Seperti, dengan adanya Kali Kayangan memungkinkan penduduk Pendoworejo bisa mengairi lahan pertaniannya tanpa harus khawatir kekurangan pasokan air, tanaman pun tumbuh dengan subur sehingga hasil panen melimpah ruah. Dan sebagai wujud syukur, setiap hari Rabu terakhir di Bulan Sapar penduduk mengadakan tasyakuran bersama di tepi Bendung Kayangan, sebab di bulan itu biasanya penduduk telah menyelesaikan proses tanam. Dengan kata lain upacara ini dilaksanakan sebagai rasa syukur telah selesai menanam.
Ditambahkan Pak Mul _demikian sapaan akrabnya_ selain bercocok tanam, mata pencaharian penduduk di desa ini adalah sebagai pemain jathilan sehinnga prosesi tasyakuran tidak jauh dari atraksi jathilan yang tentunya sudah membumi di daerah itu. Sebut saja prosesi Ngguyang Jaran Kepang yang menyimbolkan penyucian atau pembersihan diri setelah selesai menanam, dan bagi yang mempercayainya, prosesi itu dapat memperlancar job para pemain jathilan. Puncak dari acara ini adalah do’a bersama dilanjutkan dengan Kembul Sewu Dulur, disini semua yang hadir akan diajak bersama-sama memakan nasi dan lauk yang telah disiapkan penduduk, tanpa membedakan apakah mereka datang dari kalangan atas maupun kalangan bawah, semuanya membaur menjadi satu.
Upacara adat Saparan Rebo Pungkasan ini menjadi oase di tengah maraknya bencana yang disebabkan oleh keserakahan manusia terhadap pengelolaan alam di negeri ini. Hanya demi mengejar keuntungan finansial manusia mengeksploitasi alam secara berlebihan, mereka tebangi hutan dengan semena-mena, dan lebih parahnya lagi mineral yang ada di bumi ini mereka kuras sampai habis. Dalam benak mereka alam tak ubahnya seperti seorang budak yang bisa diperlakukan seenaknya, padahal tanpa mereka sadari alampun bisa murka apabila kita sakiti. Akibatnya, bencana tak hentinya melanda beberapa daerah di negeri ini, tak jarang orang yang tidak berdosalah yang kemudian menjadi korbannya.
Agaknya kita harus bercermin pada masyarakat Pendoworejo ini, pola kehidupan mereka yang dekat dengan alam menjadikan alam sebagai sumber kehidupan yang harus disyukuri. Melalui alam-lah mereka bercocok tanam, dan dengan air yang terkandung di alam itulah mereka mengairinya sehingga tanamanpun tumbuh dengan subur. Kehidupan yang menyatu dengan alam itulah yang memungkinkan terjadinya simbiosis mutualisme antara manusia dengan alamnya. Di satu sisi manusia dapat memanfaatkan kekayaan alam secara berimbang dan di sisi lain kelestarian alam tetap terjaga.
* Reporter LPM PENDAPA Tamansiswa

Tulisan ini pernah dimuat di Buletin Pendapa News

Senin, 14 April 2008

BERCERMIN PADA NGAYOGYAKARTA HADININGRAT


Mengurai kota Yogyakarta ibarat memandang taman bunga. Beraneka ragam. Warna-warni kembang bermekaran dan membuat hati selalu terpikat. Pesona Yogyakarta menjadi sempurna ketika hal itu memberi kekaguman bahkan kedamaian. Sugesti akan kejernihan pemerintahan Yogyakarta menjadikan atmosfer kota gudeg terilustrasi mengesankan. Bukan sebuah ilustrasi bombastis yang serba hiperbolik, melainkan penggambaran realita yang sedikit disandingkan dengan hiruk pikuk persoalan di belahan Nusantara lainnya.
Yogyakarta menyandang berbagai predikat. Sebagai kota perjuangan, kota pariwisata, kota pendidikan, kota kebudayaan, bahkan kota sejarah. Yogyakarta mempunyai filosofi budaya serta sejarah yang sangat komplek. Pengklaiman ini sangat simetris jika dipadukan dengan arti Ngayogyakarta sendiri. Menurut Babad Gianti, nama Yogyakarta diberikan oleh Paku Buwono II (raja mataram tahun 1719-172). Yogyakarta diartikan Jogja yang kerta (Kota yang makmur) dan Ngayogyakarta Hadiningrat berarti kota yang makmur dan utama.
Selain segudang predikat di atas, Yogyakarta juga memiliki slogan “Yogyakarta berhati nyaman”. Hal ini tercermin dari kehidupan Yogyakarta yang adem ayem diantara kemajemukannya. Dikatakan oleh Bupati Bantul, Idam Samawi, dalam acara launching buku PENDAPA Tamansiswa “Jogja dalam Keistimewaan”, Idam mengungkapkan bahwa,”Yogyakarta adalah miniature Indonesia, dimana di Yogyakarta hidup berbagai penduduk berlainan suku, ras, budaya dan agama secara berdampingan.” Hal ini selaras dengan apa yang diungkapkan oleh Prof Bakdi Sumanto yang ditemui oleh kru Pendapa di kediamanya. “Jogja ini memiliki sesuatu yang menonjol yaitu kepluralannya. Dimana di Jogja ini tumbuh berbagai macam budaya, sehingga tidak terjadi dominasi-doninasi budaya. Hal yang terpenting adalah jauhkan pikiran The Other. Seperti yang terjadi di Jogja yang ada adalah kita semua sama, sesuai dengan kebudayaan jawa”
Secara geografis DIY mempunyai luas 318.581 ha dengan penduduk kuramg lebih 3 juta jiwa. Sampai saat ini Yogyakarta diakui sebagai kota pendidikan. Berbagai kampus dan sekolah tinggi tumbuh dengan nyaman di Yogyakarta, ribuan pelajar lokal, luar kota maupun Internasional berbondong-bondong datang ke Yogyakarta demi turut mengenyam studi di kota gudeg ini. Di Yogyakarta terdapat lebih100 buah lembaga pendidikan tinggi dan lembaga akademis, baik lembaga yang didirikan oleh negeri maupun swasta. Jumlah Perguruan Tinggi dan lembaga pendidikan tinggi lainnya sebanyak 127, itu pun belum termasuk lembaga keterampilan. Hal ini menganut korelasi berbanding lurus terhadap peningkatan jumlah mahasiswa di Yogyakarta baik yang berasal dari Yogyakarta sendiri maupun dari seluruh penjuru Indonesia.
Yogyakarta masih sangat kental dengan budaya Jawanya. Seni dan budaya merupakan bagian tak terpisahkan dalam kehidupan masyarakat Yogyakarta. Sejak masih kanak-kanak sampai dewasa, masyarakat Yogyakarta akan sangat sering menyaksikan dan bahkan, mengikuti berbagai acara kesenian dan budaya di kota ini. Bagi masyarakat Yogyakarta, di mana setiap tahapan kehidupan mempunyai arti tersendiri, tradisi adalah sebuah hal yang penting dan masih dilaksanakan sampai saat ini. Tradisi juga pasti tidak lepas dari kesenian yang disajikan dalam upacara-upacara tradisi tersebut. Kesenian yang dimiliki masyarakat Yogyakarta sangatlah beragam. Dan kesenian-kesenian yang beraneka ragam tersebut terangkai indah dalam sebuah upacara adat. Sehingga bagi masyarakat Yogyakarta, seni dan budaya benar-benar menjadi suatu bagian tak terpisahkan dari kehidupan mereka. Masih menurut pakar budaya Bakdi Soemanto, keserasian budaya yang ada di Jogja ini tidak terlepas pada figure kepemimpinan di mana figure kepemimpinan yogyakarta tidak terlepas dari sosok Sri Sultan. Menurutnya, ciri kepemimpinan Sultan yang patut dicontoh untuk pemimpin yang ingin memajukan Indonesia ialah Tahta untuk rakyat atau Manunggal Ing Kawula Gusti dan penerapan ponco-ponco Tamansiswa inggarso sungtulodo, ing madyo mangun karso dan tutwuri handayani oleh Sri Sultan. Lebih lanjut Bakdi menjelaskan, apa yang telah dilakukan oleh Sri Sultan Hamengku Buwana X tidak terlepas dari didikan ayahandanya yang tak lain adalah Hamengku Buwana IX. “Jadi menurut saya didikan Hamengku Buwana IX berhasil, perlu diingat Sultan yang sekarang ini adalah sosok yang sangat demokratis sehingga wajar jika mampu mensinergiskan kemajemukam budaya,”. Terlepas dari semua itu, menurut Bakdi, Sri Sultan sejak kecil telah diajari untuk hidup mandiri, maka tidak heran jika Sultan disamping seorang Gubernur beliau juga seorang pedagang, bisnisman, politikus dan pemikir.
Akhir-akhir ini, environment Yogyakarta agak memanas. Isu demokrasi yang sebelumnya marak terjadi di wilayah lain Indonesia, kini mencuat di Yogyakarta. Salah satu pemicunya tak lain akibat penyataan Sri Sultan Hamengkubuwono X pada orasi budaya tanggal 7 april 2007 yang bertepatan dengan hari Ulang Tahun Sri Sultan yang ke-61. Sri Sultan Hamengku Buwono X bertutur bahwa Beliau tidak bersedia lagi menjadi Gubernur DIY untuk periode berikutnya. Banyak spekulasi yang timbul dari statement ini, baik dari kalangan budayawan, politikus dan masyarakat Yogyakarta sendiri. Sampai saat ini belum ada alasan yang jelas dari pihak Sultan sendiri mengenai ketidak bersediaanya untuk menjadi Gubernur lagi.
.Masyarakat Yogyakarta masih dalam kebimbangan dan masih menerka-nerka siapa pengganti Gubernur Yogyakarta berikutnya. Ketika ada statement Sri Sultan menolak untuk menjadi Gubernur DIY pada periode 2008 mendatang , UU keistimewaan Yogyakarta yang telah disusun jauh-jauh hari sebelum statement Sultan, kini mulai marak dibahas kembali. Walaupun demikian, hal itu belum dapat menjawab kebimbangan masyarakat selepas periode kepemerintahan sultan berakhir (jika terjadi,red).
Jauh dari pemasalahan-permasalahan itu, ada hal yang jauh lebih menarik untuk dipelajari. Dikatakan pula oleh Prof. Bakdi Soemanto, apa yang telah dilakukan oleh Sri Sultan saat ini bisa jadi merupakan message (sentilan red) untuk pemerintahan pusat. Dimana kesan pemerintahan sekarang ini lebih berorientasi pada bagaimana mencuri hati rakyat bukan merealisasikan filosofi tahta untuk rakyat seperti yang dilakukan oleh Sri Sultan. Menurut Bakdi pada dasarnya Tahta untuk rakyat yang dirumuskan oleh Hamengku Buwana IX yang ditirukan dan diteruskan oleh Sri Sultan. Terkait dengan filosofi Jawa ngluruk tanpo bolo, menang tanpo ngasoraken yang sangat nJawani. Dimana Sultan tidak Show Up dan jauh dari kesombongan. Mengalahkan lawan dengan senyuman (kasih) yang sangat dijiwai oleh Sultan.
Sebuah opini nakal dilontarkan oleh kru Pendapa saat wawancara dengan Bakdi Soemanto. Jika raja bumi Mataram benar-benar mengemban tahta untuk rakyatnya hingga rela turun berperang hanya demi rakyat maka tidak mungkin bahwa yang dibutuhkan untuk NKRI ini adalah seorang raja bukan seorang Presiden. Menanggapi hal ini Bakdi menjawab hal ini dengan bijaksana “Permasalahannya seperti ini. Adakah kemungkinan Sultan untuk masuk dalam percaturan politik Indonesia? Apakah Sultan mempunyai kesempatan, di mana politik Indonesia ini marak dengan money politik? Wah, lha, Cilaka iki!” masih menurut Bakdi, Sultan adalah seorang yang sangat menahan diri “Sri Sultan itu orangnya restrain, tidak seperti Jusuf Kalla yang maju-maju, atau Sutiyoso nah apakah nanti tidak kalah strong” menurutnya sebagai orang jawa Sri Sultan semendeh pasrah pada Allah (semeleh), seandainya nanti ada jalan untuk memerintah Indonesia pastilah Sultan akan jadi Presiden.